Category Archives: DFD KURIR KARGO

SIKLUS PENDAPATAN PERUSAHAAN KURIR KARGO

SILKUS PENDAPATAN

A.  SIKLUS PENDAPATAN

 Pengertian Siklus Pendapatan adalah Aktivitas yang terkait dengan pertukaran barang dan jasa dengan pelanggan dan pengumpulan kas dari pendapatan  Terdiri atas transaksi:Penjualan kredit, Penagihan/penerimaan piutang, Penyesuaian penjualan (diskon, retur dan rabat penjualana,  dan kerugian piutang

Siklus pendapatan merupakan rangkaian aktivitas bisnis dan kegiatan pemrosesan informasi terkait yang terus berulang dengan menyediakan barang dan jasa ke para pelanggan dan menagih kas sebagai pembayaran dari penjualan-penjualan tersebut

Sistem informasi akuntansi dalam siklus pendapatan merupakan salah satu dan keseluruhan sistem informasi akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan. Dalam perusahaan yang pendapatannya berasal dari penjualan barang dan jasa sistem informasi akuntansi dalam siklus pendapatan ini sangat penting karena memberikan pengendalian intern yang memadai terhadap penjualan dan penerimaan kas pada perusahaan.

Siklus pendapatan adalah transaksi akuntansi sebagai hasil dari kejadian ekonomi yang menghasilkan pendapatan pada entitas akuntansi. Terdapat empat kejadian bisnis yang menimbulkan pendapatan: mendapat order dari pelanggan, jasa pengiriman untuk pelanggan, tagihan, dan penerimaan pembayaran. Ketika perusahaan menjual jasa dalam bentuk kredit, kejadian ini menimbulkan transaksi. pendapatan , transaksi dan dokumen. Horngren (2002, p758) dan Gelinas (1996, p128), perusahaan jasa adalah perusahaan yang menyediakan jasa nyata daripada produk nyata. Organisasi yang menjual jasa dibanding merchandise pada pelanggannya. Siklus pendapatan perusahaan jasa mencakup semua aktivitas dari billing/account receivable/cash receipts system dan bagian aplikasi dari manajemen sumber daya manusia dan sistem jurnal umum. Siklus operasi pendapatan perusahaan jasa meliputi : Pencatatan tampilan jasa untuk pelanggan (akumulasi biaya dari biaya personel dalam manajemen sumber daya manusia); Billing proses dan pencatatan pendapatan jasa dan account receivable dan Penangkapan dan pencatatan cash receipts. Perusahaan jasa juga harus mencatat transaksi lainnya seperti pembelian material yang digunakan dalam tampilan janji jasa dan pembayaran gaji

 1. Tujuan

Tujuan sistem pendapatan dapat dirinci menjadi:

  1. Menyelidiki kemampuan pembeli membayar kreditnya.
  2. Mengirim barang atau mengerjakan jasa ke pembeli.
  3. Menagih hasil penjualan dengan teliti dan tepat waktu.
  4. Mencatat dan mengklasifikasi dengan teliti dan segera.
  5. Membukukan penjualan dan penerimaan kas dg benar.
  6. Melindungi barang dan kas sampai saat dikirim atau dideposit.
  7. Menyiapkan berbagai dokumen dan laporan yang berhubungan dengan penjualan barang dan jasa.

2. Fungsi

Fungsi siklus pendapatan meliputi:

  1. Mendapatkan pesanan dari pembeli.
  2. Memeriksa status kredit pembeli.
  3. Mencatat dan memproses data penjualan.
  4. Merangkai atau membuat barang yang akan dikirim.
  5. Mmengirim barang.
  6. Menagih konsumen.
  7. Menerima pembayaran dan menyimpannya ke bank.
  8. Menyelenggarakan catatan piutang dagang.
  9. Memindah bukukan transaksi ke buku besar.
  10. Menyusun laporan keuangan dan laporan lain yang diperlukan.

3. Database

File transaksi penjualan. File ini digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, baik unai

maupun kredit. Elemennya meliputi:

  1. nomer faktur penjualan
  2. nomer kode pembeli
  3. tanggal penjualan
  4. kode barang
  5. jumlah barang yang dipesan
  6. jumlah barang yang dijual (dikirim)
  7. harga satuan barang

4.  Sasaran Audit:

  • Keberadaan atau Keterjadian (yang di catatan dan di laporan bukan sesuatu yang fiktif)
  • Kelengkapan (yang ada/terjadi dicatat dan dilaporkan semua)
  • Kepemilikan dan Kewajiban (kekayaan dan hutang yang ada dan yang tercatat merupakan milik atau kewajiban entitas)
  • Penilaian dan Pengalokasian (metode penilaian dan alokasi sesuai dengan PABU)
  • Penyajian dan Pengungkapan (klasifikasi dan pengungkapan sesuai dengan PABU)
  • Pengembangan Strategi Audit berdasar pemahaman bisnis & industri:
  • Ekspektasi total pendapatan berdasar kapasitas, pasar, dan klien
  • Ekspektasi margin kotor berdasar pangsa pasar dan keunggugulan bersaing
  • Ekspekstasi piutang neto berdasar rerata periode penagihan klien dan industri

5.  Initial Procedures:

  1. Dapatkan pemahaman bisnis dan industri dan tentukan:
  • Pentingnya pendapatan dan piutang usaha bagi entitas
  • Pemacu ekonomik kunci yang mempengaruhi penjualan, margin dan pengumpulan piutang entitas
  • Standar kredit industri
  • Luas konsentrasi aktivitas dengan pelanggan

2. Lakukan prosedur pendahuluan atas saldo piutang dan catatan  yang harus diuji lebih lanjut

  • Telusuri saldo awal  AR ke KKP tahun lalu
  • Review aktivitas dalam buku besar  piutang usaha dan selidiki ayat-ayat yang tampak tidak biasa (jumlah dan sumber)
  • Dapatkan daftar saldo piutang usaha dan tentukan
  • Keakuratannya dalam catatan akuntansi dengan cara: Jumlahkan ke bawah dan cocokan dengan (1) penjulahan buku pembantu atau fail induk piutang usaha (2) saldo buku besar
  • Uji kecocokan  saldo debitur pada daftar saldo dengan  buku pembantu atau master file

3.  Lakukan prosedur analitik

  • Kembangkan ekspektasi untuk piutang usaha berdasar pengetahuan tentang aktivitas bisnis, pangsa pasar, syarat penjuaan normal dan perputaran piutang masa lalu
  • Hitung nisbah (ratio):
  • Bandingkan penjualan dengan kapasitas
  • Bandingkan pertumbuhan penjualan dengan pertumbuhanh piutang
  • Hari perputaran piutang
  • Biaya kerugian piutang dengan penjualan kredit neto
  • Biaya kerugian piutang dengan penghapusan piutang
  • Analisis hasil rasio dengan prakiraan berdasar tahun lalu, data industri, jumlah anggaran, atau data lain
  • Test Rinci Transaksi

4.  Usut sampel catatan transaksi penjualan dan piutang usaha untuk mendukung dokumentasi.

  • Usut (vouch) debet piutang ke faktur penjualan, dokumen pengiriman, dan pesanan penjualan
  • Usut kredit piutang ke remittance advises atau penyesuaian penjualan, otorisasi retur dan rabat penjualan atau penghapusan piutang

5.  Lakukan  uji pisah-batas untuk penjualan dan retur penjualan

  • Pilih sampel catatan transaksi penjualan dari beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca dan periksa dokumen faktur penjualan, bukti pengiriman untuk menentukan bahwa penjualan telah dicatat dalam periode yang tepat
  • Pilih sampel memo kredit  yang dikeluarkan sesudah tanggal neraca, periksa dokumen pendukung tanggal laporan penerimaan barang dan tentukan bahwa retur telah dicatat dalam periode yang tepat.  Juga pertimbangkan apakah volume retur penjualan sesudah akhir tahun menunjukkan kemungkinan adanya pengiriman barang tanpa otorisasi.

6.  Lakukan uji pisah-batas penerimaan kas.

  • Amatai bahwa seluruh kas masuk sampai dengan hari terakhir tutup buku sudah dilaporkan sebagai kas yang ada di tangan atau setoran dalam proses dan tidak ada penerimaan sesudahnya yang ikut dilaporkan
  • Review dokumentasi seperti ikhtisar kas harian, duplikat slip setoran bank, dan rekening koran yang mencakup beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca apakah sudah mencakup perioda yang tepat
  • Tes Rinci Saldo

7.  Konfirmasi piutang usaha:

  • Tentukan bentuk, waktu, dan luas permintaan konfirmasi
  • Pilih dan lakukan sampel kemudian selidiki perbedaan
  • Untuk konfirmasi positif yang tidak dijawab, lakukan prosedur alternatif berikut: (1).Usut penerimaan kas kemudian yang dapat diidentifikasi dengan saldo  debitur pada tanggal konfirmasi ke dokumen pendukung (2). Usut pos-pos dalam saldo tanggal konfirmasi ke dokumen pendukung seperti pesanan penjualan dan dokumen pengiriman barang

8.   Evaluasi kecukupan komponen penyisihan untuk setiap kategori umur dan secara keseluruhan.

  • Jumlahkan ke bawah dan ke samping daftar saldo umur piutang dan cocokan dengan jumlah dalam buku besar
  • Uji umur piutang dengan mengusut  jumlah dalam kelompok sampel akun ke dokumen pendukung
  • Untuk debitur yang menunggak. (1)Periksa bukti kolektibiltas seperti korespondensi dengan debitur dan agensi penagihan eksternal, laporan kredit, dan laporan keuangan klien.(2).Bahas kolektibilitas akun dengan personel manajemen terkait
  • Evaluasi proses manajemen ketika menaksir  penyisihan kerugian piutang
  • Evaluasi kecukupan penyisihan bersadar informasi berian tentang: Tren industri, Tren umur, Riwayat penagihan untuk debitur tertentu, Prosedur Mandatori (Wajib), Konfirmasi piutang
  • Bentuk konfirmasi: Positif, Negatif, Blanko

10.  Bandingkan penyajian dengan PABU

  • Tentukan bahwa piutang telah diidentifikasi dan diklasifikasi menurut jenis dan perioda realisasi yang diharapkan
  • Tentukan  apakah ada debitur bersaldo kredit yang jumlahnya berarti secara keseluruhan dan harus direklasifikasikan sebagai kewajiban
  • Tentukan kelayakan pengungkapan dan akuntansi  piutang untuk pihak terkait, penjaminan, penganjakan, atau faktoring Dalam proses pelaksanaan audit, auditor dapat menilai kinerja perusahaan klien dengan melakukan benchmarking terhadap perusahaan lain.  Sebagai contoh menilai:
  • Efektivitas penggunaan asset untuk menghasilkan pejualan
  • AR tumbuh lebih cepat d/p pertumbuhan penjualan, pemborosan penggunaan arus kas
  • Perusahaan menghadapi risiko tinggi dengan mengubah wilayah pasarnya
  • Perusahaan berhasil melakukan inovasi produknya dibanding para pesaingnya

B. DATA FLOW DIAGRAM

1. KONSEP PERANCANGAN TERSTRUKTUR

 Pendekatan perancangan terstruktur dimulai dari awal 1970. Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknikteknik (techniques) yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan diperoleh sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Melalui pendekatan terstruktur, permasalahan yang komplek di organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari sistem akam mudah untuk  dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat waktu, sesuai dengan anggaran biaya pengembangan, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan)

 2. DATA FLOW DIAGRAM (DFD)

 Data Flow Diagram (DFD) adalah alat pembuatan model yang memungkinkan profesional sistem untuk menggambarkan sistem sebagai suatu jaringan proses fungsional yang dihubungkan satu sama lain dengan alur data, baik secara manual maupun komputerisasi. DFD ini sering disebut juga dengan nama Bubble chart, Bubble diagram, model proses, diagram alur kerja, atau model fungsi.

DFD ini adalah salah satu alat pembuatan model yang sering digunakan, khususnya bila fungsi-fungsi sistem merupakan bagian yang lebih penting dan kompleks dari pada data yang dimanipulasi oleh sistem. Dengan kata lain, DFD adalah alat pembuatan model yang memberikan penekanan hanya pada fungsi sistem. DFD ini merupakan alat perancangan sistem yang berorientasi pada alur data dengan konsep dekomposisi dapat digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan sistem yang mudah dikomunikasikan oleh profesional sistem kepada pemakai maupun pembuat program.

 3.1. Komponen Terminator / Entitas Luar

Terminator mewakili entitas eksternal yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dikembangkan. Biasanya terminator dikenal dengan nama entitas luar (external entity). Terdapat dua jenis terminator :

  1. Terminator Sumber (source) : merupakan terminator yang menjadi sumber.
  2. Terminator Tujuan (sink) : merupakan terminator yang menjadi tujuan data / informasi sistem.

Terminator dapat berupa orang, sekelompok orang, organisasi, departemen di dalam organisasi, atau perusahaan yang sama tetapi di luar kendali sistem yang sedang dibuat modelnya. Terminator dapat juga berupa departemen, divisi atau sistem di luar sistem yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dikembangkan. Komponen terminator ini perlu diberi nama sesuai dengan dunia luar yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dibuat modelnya, dan biasanya menggunakan kata benda, misalnya Bagian Penjualan, Dosen, Mahasiswa. Ada tiga hal penting yang harus diingat tentang terminator :

  1. Terminator merupakan bagian/lingkungan luar sistem. Alur data yang menghubungkan terminator dengan berbagai proses sistem, menunjukkan hubungan sistem dengan dunia luar.
  2. Profesional sistem tidak dapat mengubah isi atau cara kerja organisasi, atau prosedur yang berkaitan dengan terminator.
  3. Hubungan yang ada antar terminator yang satu dengan yang lain tidak digambarkan pada DFD.

1.Komponen Proses

Komponen proses menggambarkan bagian dari sistem yang mentransformasikan input menjadi output. Proses diberi nama untuk menjelaskan proses/kegiatan apa yang sedang/akan dilaksanakan. Pemberian nama proses dilakukan dengan menggunakan kata kerja transitif (kata kerja yang membutuhkan obyek), seperti Menghitung Gaji, Mencetak KRS, Menghitung Jumlah SKS. Ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses sehubungan dengan input dan output :

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang proses :

  1. Proses harus memiliki input dan output.
  2. Proses dapat dihubungkan dengan komponen terminator, data store atau proses melalui alur data.
  3. Sistem/bagian/divisi/departemen yang sedang dianalisis oleh profesional sistem digambarkan dengan komponen proses.

 

Berikut ini merupakan suatu contoh proses yang salah :

Umumnya kesalahan proses di DFD adalah :

  1. Proses mempunyai input tetapi tidak menghasilkan output. Kesalahan ini disebut dengan black hole (lubang hitam), karena data masuk ke dalam proses dan lenyap tidak berbekas seperti dimasukkan ke dalam lubang hitam.
  2. Proses menghasilkan output tetapi tidak pernah menerima input. Kesalahan ini disebut dengan miracle (ajaib), karena ajaib dihasilkan output tanpa pernah menerima input.

 2. Komponen Data Store

 Komponen ini digunakan untuk membuat model sekumpulan paket data dan diberi nama dengan kata benda jamak, misalnya Mahasiswa. Data store ini biasanya berkaitan dengan penyimpananpenyimpanan, seperti file atau database yang berkaitan dengan penyimpanan secara komputerisasi, misalnya file disket, file harddisk, file pita magnetik. Data store juga berkaitan dengan penyimpanan secara manual seperti buku alamat, file folder, dan agenda. Suatu data store dihubungkan dengan alur data hanya pada komponen proses, tidak dengan komponen DFD lainnya. Alur data

yang menghubungkan data store dengan suatu proses mempunyai pengertian sebagai berikut :

  1. Alur data dari data store yang berarti sebagai pembacaan atau pengaksesan satu paket tunggal data, lebih dari satu paket data, sebagian dari satu paket tunggal data, atau sebagian dari lebih dari satu paket data untuk suatu proses.
  2. Alur data ke data store yang berarti sebagai pengupdatean data, seperti menambah satu paket data baru atau lebih, menghapus satu paket atau lebih, atau mengubah/memodifikasi satu paket data atau lebih.

Pada pengertian pertama jelaslah bahwa data store tidak berubah, jika suatu paket data/informasi berpindah dari data store ke suatu proses. Sebaliknya pada pengertian kedua data store berubah sebagai hasil alur yang memasuki data store. Dengan kata lain, proses alur data bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi pada data store.

 3. Komponen Data Flow / Alur Data

 Suatu data flow / alur data digambarkan dengan anak panah, yang menunjukkan arah menuju ke dan keluar dari suatu proses. Alur data ini digunakan untuk menerangkan perpindahan data atau paket data/informasi dari satu bagian ystem ke bagian lainnya. Selain menunjukkan arah, alur data pada model yang dibuat oleh profesional sistem dapat merepresentasikan bit, karakter, pesan, formulir, bilangan real, dan macam-macam informasi yang berkaitan dengan komputer. Alur data juga dapat merepresentasikan data/informasi yang tidak berkaitan dengan komputer. Alur data perlu diberi nama sesuai dengan data/informasi yang dimaksud, biasanya pemberian nama pada alur data dilakukan dengan menggunakan kata benda, contohnya Laporan Penjualan.

Ada empat konsep yang perlu diperhatikan dalam penggambaran alur data, yaitu :

  1.  Konsep Paket Data (Packets of Data)Apabila dua data atau lebih mengalir dari suatu sumber yang sama menuju ke tujuan yang sama dan mempunyai hubungan, dan harus dianggap sebagai satu alur data tunggal, karena data itu mengalir bersama-sama sebagai satu paket.
  2. Konsep Alur Data Menyebar (Diverging Data Flow)Alur data menyebar menunjukkan sejumlah tembusan paket data yang yang berasal dari sumber yang sama menuju ke tujuan yang berbeda, atau paket data yang kompleks dibagi menjadi beberapa elemen data yang dikirim ke tujuan yang berbeda, atau alur data ini membawa paket data yang memiliki nilai yang berbeda yang akan dikirim ke tujuan yang berbeda.
  3. Konsep Alur Data Mengumpul (Converging Data Flow) Beberapa alur data yang berbeda sumber bergabung bersama sama menuju ke tujuan yang sama.
  4. Konsep Sumber atau Tujuan Alur Data

Semua alur data harus minimal mengandung satu proses. Maksud kalimat ini adalah :

  1. Suatu alur data dihasilkan dari suatu proses dan menuju ke suatu data store dan/atau terminator
  2. Sutu alur data dihasilkan dari suatu data store dan/atau terminator dan menuju ke suatu proses
  3. Suatu alur data dihasilkan dari suatu proses dan menuju ke suatu proses

  4. BENTUK DATA FLOW DIAGRAM

 Terdapat dua bentuk DFD, yaitu Diagram Alur Data Fisik, dan Diagram Alur data Logika. Diagram alur data fisik lebih menekankan pada bagaimana proses dari sistem diterapkan, sedangkan diagram alur data logika lebih menekankan proses-proses apa yang terdapat di sistem.

   Diagram Alur Data Fisik (DADF)

 DADF lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang ada (sistem yang lama). Penekanan dari DADF adalah bagaimana proses-proses dari sistem diterapkan (dengan cara apa, oleh siapa dan dimana), termasuk proses-proses manual. Untuk memperoleh gambaran bagaimana sistem yang ada diterapkan, DADF harus memuat :

  1. Proses-proses manual juga digambarkan.
  2. Nama dari alur data harus memuat keterangan yang cukup terinci untuk menunjukkan bagaimana pemakai sistem memahami kerja sistem.
  3. Simpanan data dapat menunjukkan simpanan non komputer.
  4. Nama dari simpanan data harus menunjukkan tipe penerapannya apakah secara manual atau komputerisasi. Secara manual misalnya dapat menunjukkan buku catatat, meja pekerja. Sedang cara  komputerisasi misalnya menunjukkan file urut, file database.
  5. Proses harus menunjukkan nama dari pemroses, yaitu orang, departemen, sistem komputer, atau nama program komputer yang mengakses proses tersebut.

4.2. Diagram Alur Data Logika (DADL)

 DADL lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang akan diusulkan (sistem yang baru). Untuk sistem komputerisasi, penggambaran DADL hanya menunjukkan kebutuhan proses dari sistem yang diusulkan secara logika, biasanya proses-proses yang digambarkan hanya merupakan proses-proses secara komputer saja.

4.3  SYARAT-SYARAT PEMBUATAN DATA FLOW DIAGRAM

 Syarat pembuatan DFD ini akan menolong profesional sistem untuk menghindari pembentukkan DFD yang salah atau DFD yang tidak lengkap atau tidak konsisten secara logika. Beberapa syarat pembutan DFD dapat menolong profesional sistem untuk membentuk DFD yang benar, menyenangkan untuk dilihat dan mudah dibaca oleh pemakai. Syarat-syarat pembuatan DFD ini adalah :

  1. Pemberian nama untuk tiap komponen DFD
  2. Pemberian nomor pada komponen proses
  3. Penggambaran DFD sesering mungkin agar enak dilihat
  4. Penghindaran penggambaran DFD yang rumit
  5. Pemastian DFD yang dibentuk itu konsiten secara logika
  6. Pemberian Nama untuk Tiap komponen DFD

 Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, komponen terminator mewakili lingkungan luar dari sistem, tetapi mempunyai pengaruh terhadap sistem yang sedang dikembangkan ini. Maka agar pemakai mengetahui dengan lingkungan mana saja sistem mereka berhubungan, komponen terminator ini harus diberi nama sesuai dengan lingkungan luar yang mempengaruhi sistem ini. Biasanya komponen terminator diberi nama dengan kata benda.

Selanjutnya adalah komponen proses. Komponen proses ini mewakili fungsi sistem yang akan dilaksanakan atau menunjukkan bagaimana fungsi sistem dilaksanakan oleh seseorang, sekelompok orang atau mesin. Maka sangatlah jelas bahwa komponen ini perlu diberi nama yang tepat, agar siapa yang membaca DFD khususnya pemakai akan merasa yakin bahwa DFD yang dibentuk ini adalah model yang akurat.

Pemberian nama pada komponen proses lebih baik menunjukkan aturan-aturan yang akan dilaksanakan oleh seseorang dibandingkan dengan memberikan nama atau identitas orang yang akan melaksanakannya. Ada dua alasan mengapa bukan nama atau identitas orang (yang melaksanakan fungsi sistem) yang digunakan sebagai nama proses, yaitu :

  1. Orang tersebut mungkin diganti oleh orang lain saat mendatang, sehingga bila tiap kali ada pergantian orang yang melaksanakan fungsi tersebut, maka sistem yang dibentuk harus diubah lagi.
  2. Orang tersebut mungkin tidak melaksanakan satu fungsi sistemsaja, melainkan beberapa fungsi sistem yang berbeda. Daripada menggambarkan beberapa proses dengan nama yang sama tetapi artinya berbeda, lebih baik tunjukkan dengan tugas/fungsi sistem yang sebenarnya akan dilaksanakan.

Karena nama untuk komponen proses lebih baik menunjukkan tugas/fungsi sistem yang akan dilaksanakan, maka lebih baik pemberian nama ini menggunakan kata kerja transitif. Pemberian nama untuk komponen data store menggunakan kata benda, karena data store menunjukkan data apa yang disimpan untuk kebutuhan sistem dalam melaksanakan tugasnya. Jika sistem sewaktu-waktu membutuhkan data tersebut untuk melaksanakan tugasnya, maka data tersebut tetap ada, karena sistem menyimpannya. Begitu pula untuk komponen alur data, namanya lebih baik diberikan dengan menggunakan kata benda. Karena alur data ini menunjukkan data dan infiormasi yang dibutuhkan dan yang dikeluarkan oleh sistem dalam pelaksanaan tugasnya.

 4.4  Pemberian Nomor pada Komponen Proses

 Biasanya profesional sistem memberikan nomor dengan bilangan terurut pada komponen proses sebagai referensi. Tidak jadi masalah bagaimana nomor-nomor proses ini diberikan. Nomor proses dapat diberikan dari kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah, atau dapat pula dilakukan dengan pola-pola tertentu selama pemberian nomor ini tetap konsisten pada nomor yang dipergunakan. Nomor-nomor proses yang diberikan terhadap komponen proses ini tidak dimaksudkan bahwa proses tersebut dilaksanakan secara berurutan. Pemberian nomor ini dimaksudkan agar pembacaan suatu proses dalam suatu diskusi akan lebih mudah dengan hanya menyebutkan prosesnya saja jika dibandingkan dengan menyebutkan nama prosesnya, khususnya jika nama prosesnya panjang dan sulit.

Maksud pemberian nomor pada proses yang lebih penting lagi adalah untuk menunjukkan referensi terhadap skema penomoran secara hirarki pada levelisasi DFD. Dengan kata lain, nomor proses ini merupakan dasar pemberian nomor pada levelilasi DFD

4.5  Penggambaran DFD sesering mungkin

 Penggambaran DFD dapat dilakukan berkali-kali sampai secara teknik DFD itu benar, dapat diterima oleh pemakai, dan sudah cukup rapih sehingga profesional sistem tidak merasa malu untuk menunjukkan DFD itu kepada atasannya dan pemakai. Dengan kata lain, penggambaran DFD ini dilakukan sampai terbentuk DFD yang enak dilihat, dan mudah dibaca oleh pemakai dan profesional sistem lainnya. Keindahan penggambaran DFD tergantung pada standar-standar yang diminta oleh organisasi tempat profesional sistem itu bekerja dan perangkat lunak yang dipakai oleh profesional sistem dalam membuat DFD. Penggambaran yang enak untuk dilihat dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

  1. 1.    Ukuran dan bentuk proses. Beberapa pemakai kadang-kadang merasa bingung bila ukuran proses satu berbeda dengan proses yang lain. Mereka akan mengira bahwa proses dengan ukuran yang lebih besar akan diduga lebih penting dari proses yang lebih kecil. Hal ini sebenarnya hanya karena nama proses itu lebih panjang dibandingkan dengan proses yang lain. Jadi, sebaiknya proses yang digambarkan memiliki ukuran dan bentuk yang sama.
  2. 2.    Alur data melingkar dan alur data lurus.Alur data dapat digambarkan dengan melingkar atau hanya garis lurus. Mana yang lebih enak dipandang tergantung siapa yang akan melihat DFD tersebut.
  3. DFD dengan gambar tangan dan gambar menggunakan mesin. DFD dapat digambarkan secara manual atau dengan menggunakan bantuan mesin, tergantung pilihan pemakai atau profesional sistem.

4.6  Penghindaran Penggambaran DFD yang rumit

 Tujuan DFD adalah untuk membuat model fungsi yang harus dilaksanakan oleh suatu sistem dan interaksi antar fungsi. Tujuan lainnya adalah agar model yang dibuat itu mudah dibaca dan dimengerti tidak hanya oleh profesional sistem yang membuat DFD, tetapi juga oleh pemakai yang berpengalaman dengan subyek yang terjadi. Hal ini berarti DFD harus mudah dimengerti, dibaca, dan menyenangkan untuk dilihat.

Pada banyak masalah, DFD yang dibuat tidak memiliki terlalu banyak proses (maksimal enam proses) dengan data store, alur data, dan terminator yang berkaitan dengan proses tersebut dalam satu diagram. Bila terlalu banyak proses, terminator, data store, dan alur data digambarkan dalam satu DFD, maka ada kemungkinan terjadi banyak persilangan alur data dalam DFD tersebut. Persilangan alur data ini menyebabkan pemakai akan sulit membaca dan mengerti DFD yang terbentu. Jadi semakin sedikit adanya persilangan data pada DFD, maka makin baik DFD yang dibentuk oleh profesional sistem. Persilangan alur data ini dapat dihindari dengan menggambarkan DFD secara bertingkat-tingkat (levelisasi DFD), atau dengan menggunakan pemakaian duplikat terhadap komponen DFD.

Komponen DFD yang dapat menggunakan duplikat hanya komponen store dan terminator. Pemberian duplikat ini juga tidak dapat diberikan sesuka profesional sistem yang membuat DFD, tetapi makin sedikit pemakaian duplikat, makin baik DFD yang terbentuk. Pemberian duplikat terhadap data store dilakukan dengan memberikan simbol garis lurus () atau asterik (*), sedangkan untuk terminator menggunakan simbol garis miring (/) atau asterik (*). Banyaknya pemberian simbol duplikat pada duplikat yang digunakan tergantung banyaknya duplikat yang digunakan.

 4.7. Penggambaran DFD yang Konsisten

 Penggambaran DFD harus konsisten terhadap kelompok DFD lainnya. Profesional sistem menggambarkan DFD berdasarkan tingkatan DFD dengan tujuan agar DFD yang dibuatnya itu mudah dibaca dan dimengerti oleh pemakai sistem. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan atau syarat membuat DFD.

 5.  PENGGAMBARAN DFD

 Tidak ada aturan baku untuk menggambarkan DFD. Tapi dari berbagai referensi yang ada, secara garis besar langkah untuk membuat DFD adalah:

  1. Identifikasi terlebih dahulu semua entitas luar yang terlibat di sistem.
  2. Identifikasi semua input dan output yang terlibat dengan entitas luar.
  3. Buat Diagram Konteks (diagram context) Diagram ini adalah diagram level tertinggi dari DFD yang menggambarkan hubungan sistem dengan lingkungan luarnya. Caranya :
    1. Tentukan nama sistemnya.
    2. Tentukan batasan sistemnya.
    3. Tentukan terminator apa saja yang ada dalam sistem.
    4. Tentukan apa yang diterima/diberikan terminator dari/ke sistem.
    5. Gambarkan diagram konteks.

4. Buat Diagram Level Zero. Diagram ini adalah dekomposisi dari diagram konteks.Caranya :

    1. Tentukan proses utama yang ada pada sistem.
    2. Tentukan apa yang diberikan/diterima masing-masing proses ke/dari sistem sambil memperhatikan konsep keseimbangan (alur data yang keluar/masuk dari suatu level harus sama dengan alur data yang masuk/keluar pada level berikutnya).
    3. Apabila diperlukan, munculkan data store (master) sebagai sumber maupun tujuan alur data.
    4. Gambarkan diagram level zero.
    5. Hindari perpotongan arus data
    6. Beri nomor pada proses utama (nomor tidak menunjukkan urutan proses).
  1. Buat Diagram Level Satu. Diagram ini merupakan dekomposisi dari diagram level zero.Caranya :
    1. Tentukan proses yang lebih kecil (sub-proses) dari proses utama yang ada di level zero.
    2. Tentukan apa yang diberikan/diterima masing-masing subproses ke/dari sistem dan perhatikan konsep keseimbangan.
    3. Apabila diperlukan, munculkan data store (transaksi) sebagai sumber maupun tujuan alur data.
    4. Gambarkan DFD level Satu
    5.  Hindari perpotongan arus data.
    6. Beri nomor pada masing-masing sub-proses yang menunjukkan dekomposisi dari proses sebelumnya.

 6. DFD Level Dua, Tiga,  Diagram ini merupakan dekomposisi dari level sebelumnya. Proses dekomposisi dilakukan sampai dengan proses siap dituangkan ke dalam program. Aturan yang digunakan sama dengan level satu.

6.  Prosedur Manual: Urutan Aktivitas Sistem Pemrosesan Penjualan Kredit

Prosedur manual urutan aktivitas sistem pemrosesan penjualan kredit di PT. KurirKargo adalah

  1. Divisi Penjualan – diwakili oleh Marketing Excutive dan Sales Counter
  2. Divisi Customer Service & Claim – diwakili oleh Customer Service
  3. Divisi Operasional – diwakili oleh Kurir Mobil, Kurir Motor, Koordinator Operasional Cabang pengirim Staff Outbound cabang, Staf Lintas Outbound Cabang, Staf lintas Inbound Cabang, Koordinator Operasional Cabang Penerima, Staff kurir Mobil / Motor cabang penerima
  4. Divisi Keuangan – diwakili oleh Admin Keuangan dan Collector

7.  Prosedur Manual: Transaksi Penjualan Kredit di PT. KurirKargo

  1. Calon customer di berikan proposal penawaran oleh staff marketing kanvasing, setelah proses negosiasi harga maka baru dilakukan proses pengisian FRP atau data isian pelanggan PT. KurirKargo. Padahal itu di cantumkan beberapa kesepakatan meliputi: jadwal pick Up, jangka waktu pembayaran – sesuai ketetntuan PT. KurirKargo, jumlah diskon yang diberikan. Kesepakatan ini terkahir ditandatangai oleh key person kedua belah pihak, dimana PT. KurirKargo diwakili oleh marketing yang bersangkutan.
  1. FRP yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak tadi, di entry oleh marketing yang bersangkutan atau bisa meminta tolong kepada Staff data entry atau staff counter di cabang. FRP tadi lalu disimpan oleh marketing yang bersangkutan untuk lembar pertama, lembar kedua  diserahkan ke customer, lembar ketiga diserahkan ke Admin keuangan.
  2. Pada saatnya tiba transaksi, pihak customer (Shipper)  akan menghubungi customer service PT. KurirKargo atau bisa melalui marketingnya – diteruskan lagi ke customer service. Pihak customer service akan mencatat di papan jadwal pick-up tentang jam pick-up, jumlah kg/koli barang, dokumen atau paket, setelah itu lalu di carikan kurir mobil atau kurir motor yang berdekatan dengan lokasi customer (Shipper) untuk dilakukan proses pick-up pada saat yang ditentukan diatas
  3. Untuk mempermudah dan mempercepat proses pick-up, maka setiap kurir yang keluar di berikan resi untuk memudahkan dan bias langsung menuju customer tanpa harus kembali lagi ke kantor. Adalakanya oleh marketing dilakukan stock resi di customer, sehingga customer bisa menulis sendiri resinya. Kurir bisa langsung melakukan pick-up tanpa harus menunggu lama di satu customer. Selanjutnya kurir tersebut dapat langsung melanjutkan proses pick di tempat lainnya lagi.
  4. Pada sore hari, pihak kurir menyerahkan barang atau paket ke koordinator operasional agar bisa langsung dilakukan proses serahterima kepada pihak petugas Outbound. Oleh koordinator operasional dilakukan proses sortir barang sesuai tujuan, terkadang dilakukan proses penimbangan ulang dan melihat juga jumlah harga yang tertera dalam resi, apakah sesuai dengan berat actual atau volumetrik. Proses selanjutnya adalah membuat SPK dan DP sesuai tujuan dan moda apa yang digunakan untuk proses outboundnya. Proses outbound bisa menggunakan fasilitas Bis ( khusus untuk Express Economis dan Express), Via Cargo ( khusus untuk Express Ecomnomis dan Regular), Via Kereta Api untuk Express dan Prima Express tujuan tertentu, Via udara untuk Prima Express dan Super Express. Pada sore itu juga pihak kurir menyerahkan resi tadi ke staff data entry cabang atau bisa juga di serahkan ke Sales Counternya untuk dilakukan proses entry resi. Kemudian resi tadi didistribusikan sesuai dengan peruntukannya, yaitu: resi putih lemabr 1,3,6 disimpan oleh counter, resi merah dan putih ikut barang. Nantinya resi merah itu dijadikan resi balik sebagai bukti bahwa barang tersebut sudah terima dan sampai di tangan customer (consignee). Kurir selanjutnya akan membuat laporan Pick-UP untuk hari itu. Selanjutnya coordinator operasional akan memeriksa apakah paket tersebut di packing atau tidak.
  5. Koodinator melakukan proses sortasi, dan membuat SPK dan DP untuk masing-masing barang. Dokumen ini dijadikan sebagai dokumen serah terima antara petugas lintas dengan petugas outbound cabang. Setiap staff wajib mencocokkan jumlah koli barang/paket/dokumen dengan yang tertera dalam SPK dan DP. Pada tahap ini dilakukan proses penyerahan barang/paket/dokumen dengan crew AKAP/Cargo, juga tetap menggunakan SPK dan DP sebagai alat validasi dan cress checck jumlah koli barang/paket/dokumen yang akan dilakukan proses outbound. Dokumen-dokumen ini akan disimpan oleh masing – masing petugas dalam odner sendiri yang disusun sesuai urutan tanggal. Dokumen – dokumen ini nanti akan digunakan untuk proses stracing barang/paket atau dokumen apabila terjadi kerusakan , miss sort , hilang atau kurang.
  6. Pada keesokan harinya, barang sudah sampai di kota tujuan masing – masing. Petugas lintas akan melakukan proses serah terima barang dengan mencocokkan antara dokumen SPK dan DP dengan jumlah Koli barang sesungguhnya. Jika sudah sama, maka barang / paket atau dokumen tersebut, bisa dibawa ke kantor cabang – dokumen SPK dan DP diserahterimakan dari petugas Lintas Inbound dengan Customer service. Apabila kurir langsung melakukan proses delivery, maka serah terima dilakukan antara petugas lintas dengan kurir motor / mobil. Pada sore harinya kurir tersebut memberikan laporan Delivery Report beserta Surat jalan dan Resi merah sebagai bukti tanda terima barang dengan customer (consignee). Surat Jalan dan resi balik tersebut diserahkan ke Admin Keuangan yang nantinya akan dijadikan sebagai lampiran invoice pada saat dilakukan proses penagihan ke customer. Berdasarkan Resi merah tadi petugas data entry dapat melakukan proses data status barang pada hari itu. Data status digunakan untuk menjelaskan bahwa barang sudah diterima oleh customer.
  7. pada sore hari di tanggal transaksi, admin keuangan bisa langsung melakukan proses validasi terhadap semua transaksi pada hari itu. Output dari proses ini adalah otbound selling. Pada saat melakukan validasi, admin keuangan wajib memperhatikan betul mengenai besarnya diskon, jumlah harga yang ditulis dalam resi. Dokumen acuannya adalah FRP dan Price List (sudah ada dalam data base komputer atau sistem).
  8. proses pencetakan invoce oleh admin keuangan dilakukan setiap tanggal 15 dan tanggal 30 pada bulan itu. Ini dilakukan agar proses penyerahan invoce bisa dilakukan sesegera mungkin, untuk menghindari keterlambatan dalam proses penagihan dan pembayaran oleh customer.  Invoice ini diserahkan ke collector untuk diserahkan ke customer. Collector akan membuat tanda terima invoice ke customer (shipper). Tanda terima invoice ini menjadi file oleh collector. 14 hari setelah penyerahan invoice, cutomer (shipper) melakukan proses pembayaran. Customer (shipper) bisa membayar tunai atau bukti transfer bank. Kwitansi beserta uangnya atau bukti transfer diserahkan ke admin keuangan. Apabila customer memiliki tunggakan, maka collector akan melakukan proses tagihan terhadap piutang masa lalu untuk segera dilakukan proses pelunasan.
  9. Admin keuangan, setelah menerima kwitansi atau bukti transfer, maka dilakukan proses update laporan piutang per customer. Atas penerimaan uang tersebut, admin membuat laporan penerimaan kas. Apabila customer membayar dengan transfer, maka admin keuangan akan mencetak buku bank untuk memastikan bahwa betul sudah dilakukan transfer. Admin keuangan selanjutnya akan melaporkan pelunasan tersebut ke coordinator keuangan pusat untuk dilakukan proses update data piutang cabang yang bersangkutan.
  10. Koordinator keuangan pusat akan merangkum semua report laporan semua cabang termasuk laporan piutang. Rangkuman repot tersebut akan diserahkan Manajer Finance & Accounting sebagai laporan ke General Manager dan Managing Directur. Apabila piutang yang sudah jatuh tempo belum juga dibayarkan dan jumlah nominalnya lebih dari Rp. 10.000.000, maka kepada customer tersebut diberikan penalti pemberhentian sementara kirimannya, menunggu sampai semua hutangnya dilunasi. Apabila customer tetap melakukan proses pengiriman, akan tetap diterima tetapi dengan pembayaran tunai.

8. Sistem Berjalan dan Sistem Usulan : Siklus Pendapatan – Penjualan Kredit di PT. KurirKargo ( Lihat Gambar DFD 1-5)

9.  Critical Point Audit dalam Pemrosesan Transaksi Penjualan Kredit di PT. KurirKargo

             Sebagaimana diungkapkan diatas, bahwa PT. KurirKargo masih manual dalam pemrosesan transaksi dari customer ke PT. KurirKargo, maka disini terdapat critical point yang menjadi perhatian serius untuk mencegah fraud, yaitu:

  1. Pada saat pemrosesan persetujuan yang hanya menggunakan FRP. Di banyak perusahaan courier dan cargo bentuk kontrak kerja antara perusahaan expedisi dan customer adalah hanya mengandalkan formulir registrasi pelanggan saja. Di dalam FRP tidak dicantumkan clausula yang pasti tentang hak dan kewajiban kedua belah pihak apabila terjadi wanprestasi terhadap hutang piutang. Hal ini bisa terjadi karena ada banyak perusahaan / customer yang tidak mau membuat perjanjian kontrak kerja secara formal, akibatnya perusahaan expedisi hanya menurut saja dan mengandalkan saling percaya antara kedua belah pihak. Pada kasus transaksi yang besar dengan perusahaan besar ( Pertamina ) maka disini bisa dibuat perjanjian kontrak kerja secara formal. Alasan dari perusahaan atau customer adalah, transaksi yang tidak terlalu besar dan tidak rutin, sehingga tidak perlu ada perjanjian formal. Tapi ada juga beberapa kasus, dimana perusahaan yang memiliki kewajiban sengaja tidak mau membayar dengan memanfaatkan kelemahan karena tidak ada  perjanjian kontrak kerja secara formal.
  2. Resi balik dan Surat Jalan yang dijadikan sebagai tanda terima barang ke customer (consignee) tidak dikembalikan atau hilang oleh kurir delivery, maka secara otomatis customer tidak akan mau membayar tagihan tersebut. Ada banyak perusahaan kurir yang tidak mau menerima persyaratan resi balik ini, karena terdapat kesulitan untuk proses pengembalian resi dan surat jalan tersebut. Tetapi sebaliknya, bagi customer resi balik dan surat jalan adalah media pembuktian bahwa transaksi benar-benar sudah jalan dan terrealisasi adalah  melalui resi balik dan surat jalan tersebut.
  3. Pada saat Kurir Mobil atau Kurir Motor melakukan proses Pick-Up barang, dimana mereka dibekali dengan Resi akan memberikan peluang bagi mereka untuk?
    1. Bisa saja mereka tidak menyetorkan uang beserta resinya yang dipick-up pada hari itu dan digunakan untuk kepentingan sendiri.
    2. Memberikan diskon tunai kepada customer, dimana uang diskonnya tidak diberikan kepada customer, tetapi diambil oleh mereka sendiri
  4. Barang/ Paket bisa saja terjadi kerusakan karena kerusakan teknis atau kerusakan selama dalam perjalanan. Barang tersebut bisa saja rusak karena tidak dipacking atau packingnya tidak standar. Kerusakan seperti ini akan mempengaruhi proses pembayaran penerimaan piutang. Jika barang yang rusak cukup parah dan harus diganti, maka akan dilakukan proses pengurusan asuransi
  5. Resiko barang/paket/dokumen nyasar atau miss sort sangat mungkin terjadi pada semua perusahaan expedisi. Maka disini sangat penting adalah proses serah terima barang harus lakukan sesuai dengan dokumen yang menyertai barang tersebut, yaitu dihitung jumlah koli dengan teliti. Resiko miss sort ini akan mempengarusi lead time in travel dari barang yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Keterlambatan TNT inilah yang akan menyebabkan customer itu kabur atau tidak mau lagi bekerja sama dengan perusahaan expedisi. Resiko selanjutnya yang muncul adalah customer bisa saja tidak mau membayar kewajibannya atau malah meminta claim kerugian atas keterlambatan tersebut.
  6. Barang / paket /dokumen bisa saja hilang dalam proses perjalanan, proses stracing yang cepat akan memperkecil kemungkinan terjadinya barang/paket/dokumen hilang. Kejadian hilang ini bisa saja seluruh dari paket yang dikirim atau sebahagiannya atau hanya sebahagian kecil dari barang/paket ( Pakaian dalam 1 karung, hilang satu). Kasus hilangnya barang akan beresiko customer tidak mau membayar kewajibannya
  7. Barang / paket /dokumen bisa saja rusak selama dalam proses perjalanan atau perpindahan dari satu armada ke armada yang lain. Resiko rusak bisa saja disebabkan oleh kecelakaan. Untuk menghindari resiko ini, maka setiap kiriman,  sales counter wajib menawarkan asuransi untuk barang/paket/dokument yang akan dikirim. Jika tidak, maka hanya akan mendapatkan biaya penggantian sebesar 10 kali biaya pengiriman saja.

10. Prosedur pengendalian critical Point Pemrosesan Transaksi Penjualan Kredit di PT. KurirKargo

pengendalian yang dilakukan untuk mencegah terjadinya fraud, maka perlu dilakukan langkah-langkah kepada customer dan internal manajemen PT. KurirKargo sebagai berikut:

  1. Setiap customer baru wajib dilakukan proses FRP dan dilakukan pembuatan kontrak kerja sama secara formal untuk mengikat kedua belah pihak agar dapat memenuhi hak dan kewajiban masing dengan benar. Clausula-clausula dalam perjanjian harus menjelaskan secara gamblang tentang hak dan kewajiban untuk masing-masing pihak, misalnya ketentuan Jangka waktu pembayaran, ketentuan penggunaan resi balik sebagai syarat pelunasan piutang, penalti jika terlambat bayar, jam pick-up, dan lain-lainnya. Untuk customer lama, wajib juga dibuat akta perjanjian formal. Marketing wajib mematuhi ketentuan ini.
  2. Manajemen PT. KurirKargo wajib melakukan prosedur analisa kredit yang baik dan benar kepada calon customer, sehingga fasilitas kredit yang diberikan betul-betul tidak akan menganggu kelancaran cash flow PT. KurirKargo. Selama ini resiko kredit macet hampir dikatakan tidak ada sama sekali. Loyalitas customer bukan pada marketing tetapi kepada branded PT. KurirKargo itu sendiri. Jika ini tetap bias dipertahankan, maka resiko kegagalan bayar dari piutang dapat dihindari. Tolok ukur penilai kredit adalah menggunakan pola 5C, yaitu: Character, Collateral, Capital, Capacity dan condition of Economy. Komite kredit perlu dibentuk apabila permintaan terhadap transaksi kredit ini terus meningkat. Hal ini perlu diwaspadai karena jika penjualan kredit mencapai 60 % dari total omset, maka akan sangat menganggu cash flow nantinya.
  3. Manajemen PT. KurirKargo wajib memberikan sanksi yang tegas kepada kurir yang melanggar ketentuan pengembalian resi balik dan surat jalan, sehingga resiko kredit macet dapat dihindari sedini dan sekecil mungkin.
  4. Admin keuangan sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proses distribusi resi, wajib melakukan control day to day dari pergerakan resi baik yang  diserahkan ke counter, agen, kurir, marketing maupun resi yang sudah di stock di customer (shipper). Caranya adalah pada setiap sore, admin keuangan wajib meminta kembali resi yang tidak di pakai kepada kurir atau marketing yang mengambil resi pada hari itu. Untuk counter, agen dan customer (shipper) dilakukan control per minggu, sehingga bisa dilakukan stock opname dan mengontrol persediaan resi pada masing-masing pihak tersebut diatas.
  5. Pihak sales counter dan koordinator operasional wajib meyakinkan customer (shipper) bahwa packing dilakukan untuk menjaga kemanan dari barang/paket yang akan dikirim. Jika pihak customer (shipper) tidak mau di packing, maka sales counter dan koordinator operasional wajib menyatakan kepada customer bahwa jika terjadi kerusakan bukan merupakan tanggungjawab PT. KurirKargo dan no complaint. Jika barang / paket benar-benar di packing, maka koordinator operasional wajib melakukan prosedur packing dengan benar dan dengan kayu yang benar.
  6. Proses serah terima dokumen dan barang wajib dilakukan dengan benar oleh petugas outbound, petugas lintas, petugas dan crew akap dan cargo, staf lintas inbound dan staff kurir deliver. Proses serah terima wajib menghitung dengan teliti jumlah kq/koli barang yang akan di proses pada hari itu. Untuk  menghindari barang hilang, rusak, maka kontrol serah terima barang wajib dilakukan dengan baik. Seluruh staff operasional dan Cargo perlu ada penekanan untuk selalu memperhatikan isi fragile yang selalu di tempelkan pada setiap barang/paket.
  7. Selain pengendalian diatas, pengedalian siklus pendapatan juga wajib dilakukan dengan cara sebagai berikut:
    1. otorisasi transaksi
    2. Pemisahan Tugas
    3. Supervisi
    4. Catatan akuntansi
    5. Pengendalian akses
    6. Verifikasi independen
  8. Untuk membantu kelancaran cash flow, PT. KurirKargo jangan mengandalkan transaksi logistic saja, tetapi tetap fokus pada 5 produk utama PT. KurirKargo perlu meningkatkan penjualan internasional, super dan prima dengan tetap meningkatkan kepuasaan customer dengan service level pada 98% TNT terpenuhi.